TT E B1 Perilaku Orang Berilmu
PERILAKU ORANG BERILMU
Disusun guna memenuhi tugas individu dan kelompok Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.S.I
Di susun oleh :
1. Iva Rismaliana (2117061)
Kelas : E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
TAHUN 2018
BAB 1
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Ilmu merupakan
sesuatu yang amat penting bagi manusia. Dan menuntut ilmu merupakan suatu
kewajiban dalam agama Islam baik bagi Muslim laki-laki maupun perempuan, karena
sudah tertera jelas perintah menuntut ilmu di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadis.
Manusia telah dianugerahkan oleh Allah yaitu akal, supaya digunakan untuk
berpikir dan mengembangkan diri dan terhindar dari kebodohan.
Orang yang
berilmu (‘alim)dan orang yang tidak berilmu, tentu saja memiliki
perbedaan-perbedaan. Orang yang berilmudiberikan kedudukan dan derajat yang
lebih tinggi oleh Allah Swt. Allah menjunjung tinggi orang yang mencari ilmu,
serta terdapat keutamaan-keutamaan bagi penuntut ilmu yang menerapkan perilaku
sebagai orang yang berilmu, yang terdapat dalam suatu hadis Nabi Muhammad Saw.
Yaitu: “Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya
menuju surga.”(HR.Ahmad)
2.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang disebut dengan pengetahuan manusia?
2.
Bagaimana bunyi dalil serta penjelasan dari perilaku orang berilmu?
3.
Bagaimana perbedaan orang berilmu dan orang yang tidak berilmu?
3. Tujuan
1. Mengetahui tentang
pengetahuan manusia
2. mengetahui dan memahami
dalil tentang perilaku orang yang berilmu
3. mengetahui dan memahami
perbedaan perbedaan dari orang berilmu dan orang yang tidak berilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengetahuan Manusia
Ilmu pengetahuan adalah anugrah yang sangat agung, dan rahasia
Illahi yang paling besar dari sekian banyak rahasia Allah di alam ini. Dengan
ilmu pengetahuan, manusia dikukuhkan menjadi pembawa risalah kekhalifahan
dimuka bumi, yang memiliki kewajiban untuk memakmurkan dan mengembangkannya.[1]
Orang yang berpengetahuan dan yang tidak berpengetahuan, tentu saja
memiliki perbedaan-perbedaan. Seperti yang terkandung dalam surat Az-Zumar
(39):9.
Sesungguhnya orang yang dapat menarik banyak pelajaran adalah Ulul Albab,
yakni orang-orang yang cerah pikirannya.[2]
Yang berarti yaitu orang-orang yang berpengetahuan dan berakal budi.
Menurut A. Yusuf Ali meringkas sumber pengetahuan manusia menjadi
3, yakni wahyu, rasio, dan indera yang tidak terlepas dari pedoman ilmu utama
yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis. Menurut pola Al-Qur’an, pengetahuan manusia
diperoleh dari wahyu atau penobatan secara ketuhanan atau pengetahuan yang
absolut (haqq al-yaqin), rasionalisme atau kesimpulan yang didasari pada
keputusan dan penilaian/pengharapan fakta-fakta (al-‘ilm al-yaqin), serta
melalui empirisme dan persepsi yaitu dengan menggunakan observasi, eksperimen
dan semacamnya (‘ain al-yaqin).[3]
B.
Dalil Perilaku Orang Berilmu
Surat Az-Zumar (39) ayat 9:
Ø£َÙ…َّÙ†ْ Ù‡ُÙˆَ
Ù‚َانِتٌ آنَاء اللَّÙŠْÙ„ِ سَاجِدًا ÙˆَÙ‚َائِÙ…ًا ÙŠَØْذَرُ الْآخِرَØ©َ ÙˆَÙŠَرْجُÙˆ
رَØْÙ…َØ©َ رَبِّÙ‡ِ Ù‚ُÙ„ْ Ù‡َÙ„ْ ÙŠَسْتَÙˆِÙŠ الَّذِينَ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُونَ Ùˆَالَّذِينَ Ù„َا
ÙŠَعْÙ„َÙ…ُونَ Ø¥ِÙ†َّÙ…َا ÙŠَتَذَÙƒَّرُ Ø£ُÙˆْÙ„ُوا الْØ£َÙ„ْبَابِ ﴿Ù©﴾
Artinya: “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung)
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
Katakanlah: "Apakah akan sama orang-orang yang berpengetahuan dengan
orang-orang yang tidak berpengetahuan?” Yang akan ingat hanyalah semata-mata
orang-orang yang mempunyai akal budi.”
a.
Tafsir Al-Azhar
Pada ayat diatas
kita ketahui bahwa, Nabi disuruh lagi oleh Tuhan menanyakan, pertanyaan untuk
menguatkan hujjah kebenaran; “Katakanlah! Apakah akan sama orang-orang yang
berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan?” pokok dari
semua pengetahuan ialah mengenal Allah. Tidak kenal kepada Allah sama artinya
dengan bodoh. Karena kalaupun ada pengetahuan, padahal Allah yang bersifat Maha
Tahu, bahkan Allah itupun bernama ‘ilmun(pengetahuan), samalah dengan
bodoh. Sebab dia tidak tahu akan kemana diarahkannya ilmu pengetahuan yang
telah didapatkannya itu. “yang akan ingat hanyalah semata-mata orang-orang
yang mempunyai akal budi.” (ujung ayat 9)
Sampai kelangit pun pengetahuan, Cuma kecerdasan otak. Belumlah dia
mencukupi kalau tidak ada tuntunan jiwa. Iman adalah tuntunan jiwa yang akan
jadi pelita bagi pengetahuan manusia.
Albab diartikan akal
budi. Dia adalah kata banyak dari lubb, yang berarti isi, intisari atau
teras. Dia adalah gabungan diantara kecerdasan akal dan kehalusan budi. Dia
meninggikan derajat manusia.[4]
b.
Tafsir Al-Mishbah
Setelah ayat yang lalu mengecam dan mengancam orang-orang kafir,
ayat diatas menegaskan perbedaan sikap dan ganjaran yang akan mereka terima
dengan sikap dan ganjaran bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman :
apakah orang-orang yang beribadah secara tekun dan tulus di waktu-waktu malam
dalam keadaan sujud dan berdiri secara mantap demikian juga yang ruku, dan
duduk atau berbaring, sedangkan ia terus menerus takut kepada siksa akhirat dan
dalam saat yang sama senantiasa mengharapkan rahmat Tuhannya sama dengan mereka
yang baru berdoa saat mendapat musibah dan melupakan-Nya ketika memperoleh
nikmat serta menjadikan bagi Allah sekutu-kutu? Tentu saja tidak sama!
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui hak-hak Allah dan
mengesakan-Nya dengan orang-orang yang tidak mengetahui hak Allah dan
mengkufuri-Nya?”Sesungguhnya orang yang dapat menarik banyak pelajaran adalah
Ulul Albab, yakni orang yang cerah pikirannya.[5]
c.
Tafsir Al-Munier
Setelah
Allah menerangkan perihal sifat-sifat buruk orang kafir, Allah memberikan perbandingan
antara sifat-sifat mereka dengan sifat-sifat orang beriman – yakni tidak
berserah diri kecuali hanya pada Allah SWT., Allah sebutkan:
1.
Apakah orang kafir itu lebih
baik keadaan dan tempat kembalinya, ataukah orang beriman pada Allah, yang selalu
taat dan tunduk, selalu dalam keadaan beribadah kepada Rabb-nya (baik dalam
keadaan tidur, duduk, ataupun berdiri; di sepanjang malam), di samping itu
mereka juga takut adzab akhirat dan juga mengharapkan belas kasihNya.
(bentuk
pertanyaan yang tak perlu jawaban (istifhaam inkaariy/ bentuk pertanyaan
yang berarti pengingkaran), artinya: orang beriman lebih baik daripada
orang kafir.
2.
Apakah sama, antara orang yang mengetahui (‘alim/ pandai) dengan
orang yang tidak mengetahui (jahil/ bodoh), Sesungguhnya tiada lain yang bisa
mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang mempunyai pikiran/ akal (ulul
albaab).
3.
Tidak sama antara 2 kelompok ini:
‘alim (orang yang mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau
mengamalkan serta istiqomah padanya.
jahil (orang yang bodoh): dia ketahui kebenaran akan tetapi ia tidak
mau untuk mengamalkan, atau mereka tak
ketahui kebenaran dan kebathilan juga tidak mau untuk mengetahuinya.
4.
Pelajaran yang dapat diambil dari ayat di atas adalah:
a.
Orang beramal di malam hari lebih terjaga niatnya (aman dari
sifat riya’)
b.
Orang yang tunduk (pada Allah) slalu mempergunakan waktunya untuk
beribadah kepadaNya. baik di waktu duduk, berdiri, bahkan dalam keadaan
berbaring.
c.
Keutamaan Qiyaamul lail.
d.
Orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran (‘ibroh).
e.
Ayat ini menunjukkan atas ‘kesempurnaan manusia’ bilamana mereka
mempunyai 2 hal pokok; yakni, ilmu dan amal (wujud konsekuensi atas ilmu yang
ia punya)[6].
d.
Tafsir Al-Maraghi
Setelah
Allah SWT menerangkan sifat-sifat orang musyrik, maka dilanjutkan dengan
menyebutkan hal-ihwal orang-orang Mu’min yang tekun melakukan ketaatan, yaitu
yang hanya bersandar dan mengharapkan rahmat serta takut kepada adzab-Nya.
Kemudian Allah SWT menegaskan tentang tidak ada kesamaan antara orang yang taat
dan orang yang bermaksiat diantara keduanya, dan memperingatkan tentang
keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu.
Allah berfirman: ”Katakanlah, apakah sama
orang yang mengetahui pahala yang akan mereka peroleh bila melakukan ketaatan
kepada Tuhan mereka dan mengetahui hukuman yang akan mereka terima bila mereka
bermaksiat kepada-Nya, dengan orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Yaitu
orang-orang yang merusak amal perbuatan mereka.”
Perkataan
tersebut menunjukan bahwa orang-orang yang pertama mencapai derajat kebaikan
tertinggi, sedang yang lain jatuh ke dalam jurang keburukan. Dan hal itu
tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah.
Kemudian, Allah SWT menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh
setiap orang yang memiliki akal. Karena orang-orang yang tidak tahu, seperti
yang telah disebutkan, dalam hati mereka terdapat tutup sehingga tidak dapat
memahami suatu nasihat, dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan.
Pada
ujung surat Az-Zumar ayat 9 disebutkan, sesungguhnya yang dapat mengambil
pelajaran dari hujjah-hujjah Allah dan dapat menuruti nasihat-Nya dan dapat
memikirkannya, hanyalah orang-orang yang mempunyai akal dan pikiran yang sehat,
bukan orang-orang yang bodoh dan lalai. Kesimpulannya, sesungguhnya yang
mengetahui perbedaan antara orang yang tahu dengan yang tidak tahu hanyalah
orang yang mempunyai akal pikiran yang sehat, yang dia pergunakan untuk
berpikir.[7]
C.
Perbedaan Orang Berilmu dan Orang Tak Berilmu
Dalam QS.Az-Zumar ayat 9, Allah SWT membedakan antara orang yang
berilmu dan orang yang jahil. Keduannya tidak sama. Seperti halnya antara orang
buta dan orang yang melihat, kegelapan dan cahaya, orang yang hidup dan mati, manusia
dan hewan, serta antara penghuni surga dan penghuni neraka.[8]
Melihat dari beberapa tafsir surat Az-Zumar ayat 9, dapat
disimpulkan bahwa perbedaan orang berilmu dan orang tak berilmu jelas berbeda,
berikut diantaranya:
1.
Orang yang berilmu akan mudah meluruskan niat serta akhlaqnya untuk
mengabdikan diri kepada Allah SWT karena memiliki iman yang merupakan pelita
bagi jiwa yang berpengetahuan dan tidak mudah goyah, berbeda dengan orang yang
jahil akan mudah goyah dan terpengaruh.
2.
Orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah dan
azhab-Nya.
3.
Orang yang berilmu cenderung memiliki kehalusan budi dan
mengedepankan kecerdasan akal.
4.
Orang yang berilmu akan tau tata cara mengamalkan ilmu yang telah
didapatkannya, sedangkan orang yang tidak berilmu, tidak tau apa yang akan
diamalkannya serta bagaimana tatacara mengamalkannya serta cenderung berdiam
diri menerima kejumudan.
5.
Orang yang berilmu dapat menangkap suatu pelajaran atau hikmah
disetiap kejadian dan mensyukurinya, sedangkan yang tidak berilmu cenderung
tidak dapat menangkap suatu pelajaran bahkan peringatan dan tidak mengetahui
hak Allah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ilmu
pengetahuan adalah anugrah yang sangat agung, dan rahasia Illahi yang paling
besar dari sekian banyak rahasia Allah di alam ini. Dengan ilmu pengetahuan,
manusia dikukuhkan menjadi pembawa risalah kekhalifahan dimuka bumi, yang
memiliki kewajiban untuk memakmurkan dan mengembangkannya.
Dalam
Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 9, menjelaskan tentang perbedaan orang-orang yang
taat dan berpengetahuan dengan orang-orang yang jahil atau tidak
berpengetahuan. Dengan perbedaan salah satunya yaitu orang yang berpengetahuan
cenderung menggunakan akalnya untuk senantiasa berpikir agar bisa mengambil
pelajaran kemudian mengamalkannya serta untuk meluruskan akhlaq maupun aqidah
untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan orang yang berilmu yaitu orang yang
takut akan Allah dan azhab-Nya. Berbeda
dengan orang jahil atau tidak berilmu, mudah terpengaruh pada sesuatu dan tidak
dapat mengambil suatu pelajaran atau Ibrah karena cenderung berdiam diri dalam
kejumudan.
Adapun
sumber utama ilmu yaitu Al-Qur’an dan Hadis, dan terdapat pula 3 sumber manusia
berpengetahuan yaitu melalui wahyu, rasio, dan indera.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghiy,
Ahmad Mustafa. 1992. Tafsir Al-Maraghiy Juz XXIII. Semarang: CV Toha
Putra
Hamka.
1982. Tafsir Al Azhar Juz XXIV. Jakarta: Pustaka Panjimas
http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/01/makalah-tafsir-surat-az-zumar-ayat-9.html, Diakses pada 6 september 2018, 09:21.
Munir,
Ahmad. 2008. Tafsir Tarbawi Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan.
Yogyakarta: Teras
Qardhawi,
Yusuf. 1998. Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.
Jakarta: Gema Insani
Shihab,
M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati
Shihab,
M.Quraish. 2012.Al-Lubab Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an.
Tangerang: Lentera Hati
Siswanto.
2011. Epistimologi Pendidikan Islam. Jurnal Cendekia, Vol. 9, No.1: 8
[1]Ahmad Munir, Tafsir
Tarbawi Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Teras,
2008), h. 94
[2] M. Quraish
Shihab, Al-Lubab Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an,
(Tangerang: Lentera Hati, 2012), h.420
[3] Siswanto.
2011. Epistimologi Pendidikan Islam. Jurnal Cendekia, Vol. 9, No.1: 8
[4] Hamka,
Tafsir Al Azhar Juz XXIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), h.18
[5] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 195-196
[6]http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/2014/01/makalah-tafsir-surat-az-zumar-ayat-9.html, Diakses pada
6 september 2018, 09:21.
[7] Ahmad Mustafa
Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghiy Juz XXIII, (Semarang: CV Toha Putra,
1992) h. 260-261
[8] Yusuf
Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan,
(Jakarta: Gema Insani, 1998), h. 93
Komentar
Posting Komentar