TT E B3 Kelebihan Orang Berilmu
DisusungunamemenuhitugasmatakuliahTafsir Tarbawi
DosenPengampu: Muhammad Hufron, M.SI
Oleh :
Diah Kurnia Sari (2117110)
Kelas : E
FAKULTAS TARBIYAH DAN
ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018/2019
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018/2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur atas
kehadirat Alaah SWT yang telah melimpahkan rahmat sehat serta hidayahnya kepada
kita sehingga masih dapat merasakan nikmat sehat dari-Nya.
Sholawat serta salam, semoga selalu
tercurahkan kepada Nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi suri
tauladan yang baik bagi kita semua dan yang telah menyelamatkan diri kita dari
zaman yang gelap menuju zaman yang terang-benerang seperti sekarang ini.
Tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Muhammad Hufron, M.SI selaku pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi
yang telah memberikan tugas ini serta membantu memberikan motivasi dan masukan
dalam penyusunan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini, mungkin masih
banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penyusun berharap adanya kritik dan
saran untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat, Amiin.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bila dilihat dari proses penciptaannya,
manusia merupakan makhluk yang paling tinggi derajatnya. Meskipun manusia
diciptakan dari tanah oleh Allah SWT, karena manusia dibekali dengan berbagai
kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya.
Sehingga pada setiap manusi pasti akan memiliki keistimewaan tersendrinya.
Keberhasilan dan pencapaian manusia terletak
pada keseriusan, konsisten, dan kesinambungan dalam mencari ilmu. Dalam hal ini
manusia pasti akan mempunyai kecerdasan
multiple intellingences yang berbeda-beda. Di dalam ajaran Islam mencari ilmu
sangatlah dianjurkan bagi siapapun, tidak hanya memandang laki-laki atau perempuan,
tidak juga memandang usia yang muda atau usia yang tua.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Ilmu itu?
2. Bagaimana bunyi dalil kelebihan tentang orang berilmu?
3. Apa saja penafsiran dari surat Al-Ankabut ayat 43?
4. Apa yang dimaksud kecerdasan manusia?
5. Apa saja multiple intelligence dalam setiap diri manusia,?
C. Tujuan masalah
1. Agar manusia tidak salah mengartikan apa itu ilmu?
2. Supaya manusia paham akan kelebihan orang berilmu dan giat untuk menuntut
ilmu
3. Memberi tahu akan banyaknya penafsiran tentang Qs. Al-Ankabut:43
4. Agar lebih mengetahui apa itu kecerdasan manusia
5. Untuk mengetahui bahwa kecerdasan dalam diri manusia itu ada bagiannya
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu
Ilmu merupakan istilah yang berasal dari
bahasa arab yaitu ‘alima yang berarti mengetahui. Sedangkan ilmu dalam perspektif al-qur’an adalah suatu
keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna untuk
menjalankan fungsi kekhalifahannya. Yang mana di dalam al-qur’an terulang 854
kali. Dalam pandangan al-qur’an manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu
serta mengembangkannya. Oleh sebab itu banyak ayat yang memerintahkan manusia
untuk menempuh berbagai cara untuk terwujudnya hal tersebut. Al-qur’an mengisaratkan
bahwa ilmu terdiri dari dua macam di antaranya:
Pertama,Ilmu laduni adalah ilmu yang diperoleh tanpa
upaya manusia. Seperti dalam firman Allah
QS. Al-Kahfi ayat 65
فَوَجَدَا
عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ
مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba-hamba kami,
yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami
ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami”.
Kedua,ilmu kasbi adalah ilmu yang diperoleh manusia karena
usahanya. Seperti dalam firman Allah QS. Al-Haqqah ayat 38-39
فَلا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ (٣٨) وَمَا لا
تُبْصِرُونَ٣٩
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan
dengan apa yang tidak kamu lihat”.
Maksud dari terjemahan ayat di atas, bahwa objek ilmu
meliputi hal-hal yang bersifat material dan juga non material, fenomenal dan
non fenomenal dan bahkan ada wujud yang tidak dapat di jangkau oleh manusia.
Sumber yang di tinjau oleh Al-qur’an untuk
memperoleh ilmu pengetahuan ada empat yaitu:
1. Al-Qur’an dan al-Sunnah, dalam kedua ini merupakan sumber pertama bagi ilmu
pengetahuan. Dalam hal ini al-qur’an sering mengingatkan manusia agar
memikirkan ayat-ayat Allah dan mengambil hikmah dan mengamalkannya.
2. Alam semesta, merupakan sumber ilmu yang kedua. Dalam hal ini al-qur’an
menyeru manusia untuk memikirkan keajaiban ciptaan Allah SWT serta hubungan
manusia dengan alam sekitarnya.
3. Dari manusia (nafs), sebagaimana dalam firman Allah QS.al-Thariq ayat 5
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia
diciptakan”.
4. Sejarah ummat manusia[1]
B. Dalil kelebihan orang berilmu
Antara kelebihan yang dijelaskan di dalam hadith Nabi SAW bagi orang-orang
yang menuntut ilmu ini, kami ingin datangkan sebuah hadith yang panjang di
dalam Sahih Muslim yang menceritakan di dalam sebagian matannya akan kelebihan
orang yang menuntut ilmu.
Dari pada Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW besabda:
مَنْ سَلَكَ
طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ
كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ
السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ،
وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Barang siapa yang menempuh satu
jalan untuk menuntut ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan untuk ke
surga. Tidaklah satu kumpulan berkumpul di dalam sebuah rumah di antara
rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan mempelajarinya bersama
mereka rahmat dan dinaungi oleh malaikat serta Allah SWT akan menyebut pada
malaikat yang berada di sisi-Nya”.[Riwayat Muslim (4867)][2]
C. Nash dan Artinya
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا
إِلَّا الْعَالِمُونَ
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini, kami buat
untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”
(QS. Al-Ankabut ayat 43)
Tafsir surat Al-Ankabut ayat 43
a. Tafsir Al-maraghiy
Allah menjelaskan beberapa faidah dibuatnya
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia untuk mendekatkan pemahaman mereka kepada
apa yang sulit untuk mereka pahami, dan untuk memperjelas apa yang perkaranya
terasa sulit oleh mereka, hikmahnya sulit digali, intisarinya sulit dipahami
dan pengaruhnya sulit diketahuiserta diikuti, karena faidahnya yang terlalu
banyak kecuali oleh orang-orang yang berilmunya mendalam dan yang berpikir
tentang akibat segala perkara. sebagaimana Jabir
meriwayatkan dari nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Orang yang berilmu
adalah orang yang bisa memahami Allah SWT kemudian taat menjalankan apa yang
diperintahkan dan menjauhi yang dimurkainya”.[3]
b. Tafsir al-lubab
Perumpamaan (matsal) dalam al-Qur’an
mengandung makna-makna yang dalam. Ia bukan bertujuan menghiasi kalimat, bukan
juga terbatas pada pengertian kata-katanya. Masing-masing sesuai kemampuan
ilmiahnya dapat menimba dari perumpamaan itu pemahaman yang boleh jadi berbeda,
bahkan lebih pada dari orang lain.[4]
c. Tafsir al-Mishbah
Thabathaba’i memahami dalam arti ayat ini
adalah perumpamaan yang benar dan tepat. Dalam firman Allah SWT yang berbicara
tentang amtsal al-Qur’an sebagai: “Tiada ada yang memahaminya kecuali
orang-orang alim” mengisyaratkan bahwa perumpamaan-perumpamaan dalam
Al-Qur’an mempunyai makna-makna yang dalam, bukan terbatas pada pengertian
kata-katanya. Masing-masing orang, sesuai kemampuan ilmiahnya, dapat menimba
dari matsal itu pemahaman yang boleh jadi berbeda, bahkan lebih dalam
dari orang lain. Ini juga berarti bahwa perumpamaan yang dipaparkan disini
bukan sekadar perumpamaan yang bertujuan sebagai hiasan kata-kata, tetapi ia
mengandung makna serta pembuktian yang sangat jelas.[5]
D. Kecerdasan Manusia
Dr. Howrd Gardner, Co-Director of Project Zero
dan profesor Pendidikan di Harvard University. Selama bertahun-tahun telah
melakukan penelitian tentang berkembangan kapasitas kognitif manusia. Dia telah
mendobrak tradisi umum teori kecerdasan yang menganut dua asumsi dasar yaitu:
bahwa kognisi manusia itu bersifat satuan dan bahwa setiap individu dapat
dijelaskan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan yang dapat diukur dan
tunggal. Dalam studinya kapasitas manusia, Gardner mengembangkan kriteria untuk
mengukur apakah bakat itu bebar-benar kecerdasan. Setiap kecerdasan mestinya
memiliki ciri perkembangan, dapat diamati dalam populasi tertentu, misalnya
pada anak yang sangat pandai (jenius) atau “pelajar yang idiot” memberikan
beberapa bukti lokalisasi di otak dan mendukung sistem simbol atau sistem
notasi.
Ketika kebanyakan orang memiliki spektrum
kecerdasan yang penuh, setiap individu menunjukan perbedaan ciri-ciri kognitif.
Maka, kita memiliki tujuh jenis kecerdasan yang berbeda-beda dan menggunakannya
dengan cara-cara yang sangat personal. Penelitian Gardner telahmenguak rumpun
kecerdasan manusia yang lebih luas daripada kecerdasan manusia sebelumnya,
serta menghasilkan definisi tentang konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis
dan menyegarkan. Gardner tidak memandang “kecerdasan” manusia berdasarkan skor
tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
a)
Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang
terjadi dalam kehidupan manusia.
b)
Kemampuan untuk menghasilkan persoal-soalan
baru untuk diselesaikan.
c)
Kemampuan untuk menciptakan sesuatau atau
menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.
E. Multiple Intelligence
Dalam multiple Intelligence ini ada tujuh kecerdasan di
antaranya yaitu:
a. Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk
kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna
yang kompleks. Para pengarang, penyair, jurnalis, pembicara, dan penyair berita
memiliki tingkat kecerdasan linguistik yang tinggi.
b. Kecerdasan logika-matematika adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur
dan mempertimbangkan proposi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi
matematis.
c. Kecerdasan spasial adalah kemampuan dalam membangkitkan kapasitas untuk berpikir
dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot,
pemahat.
d. Kecerdasan kinestetik-tubuh adalah kemampuan dalam memungkinkan seseorsng
untuk menggerakan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus.
Kecerdasan ini dapat dilihat pada diri atlet penari, ahli bedah, dan seniman
yang mempunyai keterampilan teknik. Pada masyarakat Barat
ketrampilan-ketrampilan fisik tidak dihargai sebesar ketrampilan kognitif
seseorang.
e. Kecerdasan musik adalah kecerdasan yang dapat dilihat pada seseorang yang
memiliki sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme dan nada. Orang-orang
yang memiliki kecerdasan ini antara lain: komposer,konduktor, musisi dan
lain-lain.
f. Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi
dengan orang lain secara efektif. Sebagaimana budaya Barat mulai mengenalkan
hubungan atara akal dan tubuh maka hal ini perlu disadari kembali pentingnya
nilai dari keahlian dalam perilaku interpersonal.
g. Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang
akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam
merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang.[6]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pemaparan makalah di atas mengenai tafsir Al-Qur’an
surat Al-Ankabut ayat 43 menjelaskan bahwa Ilmu merupakan istilah yang berasal
dari bahasa arab yaitu ‘alima yang berarti mengetahui. Sedangkan ilmu dalam perspektif Al-qur’an adalah suatu
keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna untuk menjalankan
fungsi kekhalifahannya. Dalam Al-Qur’an surat Alkanbut ini juga ada keterangan
dari buku-buku tafsir seperti Tafsir Al-maraghiy,Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir
al-lubab, Tafsir al-Mishbah.Saat manusia menuntut ilmu manusia memiliki
berbagai kecerdasan multiple intelligence yang berbeda-beda diantaranya
kecerdasan linguistik,
logika-matematika, spasial,kinestetik-tubuh, musik,
interpersonal, intrapersonal.
DAFTAR PUSTAKA
MunirAhmad.2008. Tafsir Tarbawi mengungkap
pesan Al-Qur’an tentang pendidikan.Yogyakarta: TERAS perum POLRI Gowok.
http://ulamasedunia.org/2016/10/01/kelebihan-menuntut-ilmu/
Al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. 1989. Tafsir
Al-Maraghi. Semarang: CV Tohaputra.
Shihab, M. Quraish.2012.makna tujuan dan pelajaran dari surah-surah
al-Qur’an.Tangerang:lentera hati.
Shihab, M.
Quraish. 2002.Tafsir Al-Misbahpesan, kesandankeserasian Al-Qur’an, (Jakarta: LenteraHati.
Linda Camplle, Bruce Camplle, Dee Dickinson. 2002. Multiple
Intelligences metode terbaru melesatkan kecerdasan.Depok: Inisiasi Press.
[1]Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi mengungkap
pesan Al-Qur’an tentang pendidikan(Yogyakarta: TERAS perum POLRI Gowok,
2008), Hlm 79-94
[2]http://ulamasedunia.org/2016/10/01/kelebihan-menuntut-ilmu/
[3]Ahmad
Musthafa Al-Maraghiy,Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV Tohaputra,1989),
hlm 237-238
[4]M. Quraish Shihab, makna tujuan dan
pelajaran dari surah-surah al-Qur’an, (Tangerang:lentera hati,2012), Hlm
112-113
[5] M.
QuraishShihab, Tafsir Al-Misbahpesan, kesandankeserasian Al-Qur’an,
(Jakarta: LenteraHati, 2002), hlm 502
[6]Linda Campbell. dkk, Multiple
intelligences metode terbaru melesatkan kecerdasan, (Depok: Inisiasi
Press,2002), Hlm 1-3.
Komentar
Posting Komentar