TT E B4 Berpaling Dari Lingkaran Setan




Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi I
Dosen pengampu: Muhammad Hufron, M. S. I
Disusun oleh :
Naila Fakhriyan
2117119
Kelas : E

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018


KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberi daya serta upaya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Berpaling dari Lingkaran Setan”. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, berserta keluarga dan para sahabatnya.
Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Bapak Muhammad Hufron, M. S. I. Selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I atas tugas yang telah diberikan, semoga dapat menambah wawasan penulis tentang ilmu Tafsir Tarbawi I dan menambah keiman kepada Allah swt.
Demikianlah kata pengantar dari kami. Saran dan masukkan sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan bisa menambah wawasan khususnya kepada mahasiswa IAIN Pekalongan dan pada umumnya kepada pembaca.





Pekalongan, 09 September 2018


Penulis

 




BAB I
PENDAHULUAN

Ada berbagai metode yang digunakan Rasulullah untuk menyampaikan wahyu Allah swt melalui berbagai macam cara. Tujuan beliau berdakwah melalui berbagai macam dikarenakan beliau menyesuaikan keadaan umatnya yang masih sangat sempit pemikirannya.
Melihat kenyataan yang demikian bahwa umatnya masih banyak yang pengetahuannya sedikit yang mengakibatkan mereka tidak dapat memilah mana yang baik dan yang buruk, yang hak dan yang bathil, yang masih menganiaya  orang lain, yang masih bersikap acuh kepada sesama manusia dan masih bermalas-malas untuk berbuat baik dan belajar agar memiliki wawasan yang luas, maka melalui Q. S. Al-A’raf ayat 1999, Allah swt berfirman yang diwahyukan kepada Rasulullah saw yaitu bahwa ayat yang tersebut membahas mengenai cara memaafkan, berbuat baik, dan menghindari orang-orang bodoh. Sehingga sangat diharapkan umat Rasulullah dapat mengamalkannya dan terhindar dari pengaruh setan.
Oleh karena itu, makalah ini akan menyajikan hal-hal yang tergabung dalam lingkaran setan, dalil-dalil berpaling dari setan, dan kebodohan-kebodohan mengenai ke-Tuhanan.
Berdasarkan latar belakang diatas, perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan agar pembahasan dalam makalah ini terfokuskan. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.      Apa saja hal-hal yang masuk dalam lingkaran setan?
2.      Apa saja dalil yang berisi mengenai pentingnys perpaling dari lingkaran setan?
3.      Apa saja kebodohan-kebodohan mengenai ke-Tuhanan.
Metode menyelesaikan makalah ini adalah dengan melalui kajian fakta., yaitu dengan menggunakan beberapa refensi buku atau refrensi lainnya yang merujuk pada persoalan tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

Kata bodohberasaldari kata jahl “جهل”yangberartikebodohan, ketidaktahuan. Seseorangdapatdikatakanbodohapabila orang tersebuttidakmengetahuitentangsesuatu. Kebodohantermasukakarkesesatan yang paling besar, tidakhanyasesatdirinamunjugamenyesatkan orang lain.[1]
Sebab-sebab orang bodoh, antaralain :
a.       Memilikihati, namuntidakdipergunakanuntukmemahami (ayat-ayat Allah).
b.      Merekamempunyaimata, namuntidakdipergunakanuntukmelihat (tanda-tandakekuasaan Allah).
c.       Merekamempunyaitelinga, namuntidakdipergunakanuntukmendengar (ayat-ayat Allah).
d.      Malasuntukmenuntutilmu, berinteraksiantarmanusia, dansebagainya.
Dalampandangan Islam, orang yang bodohadalah orang yang mudahterhasutolehbisikansetanatau orang yang imannyalemah. Tanda-tanda orang yang bodoh, antara lain:
a.       Banggadiri
b.      Banyakbicaradalamhal yang tidakbermanfaat
c.       Jikadiberikepercayaan, diaberkhianat
d.      Tidakdapatmemilahmana yang baikdanmana yang buruk
e.       Sukamengada-ada
f.       Mudahterpengaruh
Orang yang cerdas, selalumembebaskandiridarisikap-sikapdiatas, jugatanda-tanda yang lain, sepertibermalas-malasandalamberibadahdanberamalsholeh, sombong, dansebagainya.

Kata miskinmenurut Al-Rlghib al-Ashfahaniadalah orang yang tidakmempunyaiapa-apadanhidupnyalebihbaikdaripada fakir.[2]
Faktorpenyebabkemiskinan, antaralain :
a.       Sikapberdiamdiri, engganatautidakmauberusaha.
b.      Menganggapjikatidakmemilikipendidikantinggimakatidakbisamenjadisuksesatau kaya.
c.       Tidakbisamemanajemenuang, dansebagainya.
Manusiamenjaditerbelakangkarenaberawaldarisikapmanusiatersebut yangtidakinginberkembang, tidakinginberusahadanbersusahpayah. Iahanyainginkesuksesan yang instan. Sedangkan Allah swtdalamfirman-Nya, tidakakanmengubahkeadaansuatukaumjikakaumtersebuttidakmauberusaha.
Jikadiatidakmaubelajarmakadiaakanbodoh, makakebodohanmembuatnyaterbelakangdari yang lainnya. Kemudianjikadiatidakinginberusahadanhanyaberdiamdiridalamkemiskinannya, makadiaakanterbelakangdengankemiskinantersebut.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ 
Artinya :”Ambillah cara memaafkan, dan suruhlah berbuat ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q. S. Al-A’raaf, 7: 199)
Ayat ini merupakan suatu pedoman yang diperingatkan Allah swt kepada Rasul-Nya. Tiga unsur yang wajib diperhatikan dan dipegang terguh didalam menghadapi pekerjaan besar menegakkan da’wah kepada umat manusia.[3]
Memaafkan di ayat tersebut maksudnya adalah memaafkan segala kejanggalan-kejanggalan akhlak manusia. Sedangkan ma’ruf di ayat tersebut maksudnyaadalah Rasulullah memerintahkan kepada seluruh manusia khususnya kepada orang-orang yang beriman supaya berlomba-lomba membuat berbuat baik. Sehingga umat Islam dapat menjadi umat yang perhatian kepada sesamanya dan tidak mencela satu sama lain dan menghambat menggunjing orang lain.
Kemudian maksud berpaling daripada orang-orang yang bodoh ialah karena ukuran yang dipakai oleh orang yang bodoh itu adalah ukuran yang singkat. Mereka akan berbicara mengenai suatu hal melalui pemikirannya yang singkat dan pandangan yang picik. Perrkataan mereka terkadang menyakitkan hati, tidak dapat menghargai orang lain, mudah terpengaruh, mudah berkhianat, dan sebagainya. Maka arti dari perpaling di ayat tersebut adalah agar kita berhati-hati dengan bahayanya orang-orang bodoh.[4]
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya:”Dan jika mengenai kepada engkau suatu gangguan dari syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Mendengar lagi Mengetahui.”
(Q. S. Al-A’raaf, 7: 200)
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
Artinya :”Dan sebutlah Tuhan engkau didalam hatimu dengan merendahkan diri dan takut, dan tidak dengan kata-kata yang kasar, pada pagi hari dan petang, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (Q. S. Al-A’raaf, 7: 205)
إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ
Artinya :”Sesungguhnya mereka yang berada disisi Tuhan engkau, tidaklah engkau menyombong daripada ibadat kepada-Nya, dan mereka mengucapkan kesucian atas-Nya, dan kepada-Nyalah mereka bersujud.” (Q. S. Al-A’raaf, 7: 206)
Syirikdarisegibahasaberartimempersekutukan. Orang yang menyekutukan Allah swtdisebutmusyrik.Sedangkanmenurutistilahperbuatanmempersekutukan Allah swtdengansesuatu yang lain, seakan-akanada Yang MahaKuasaselain Allah swt.[5]
Sebab-sebab orang syirik, antaralain :
a.       Mengagumisesuatusecaraberlebihan
b.      Menyombongkandirikepada Allah swt
c.       Fanatismeterhadappeninggalannenekmoyang
d.      Percayaakankekuatanbenda-bendakeramat, dansebagainya.
Secarabahasakafirartinyamenyembunyikan, menutupi, menghalangi, dinding, selubung, mengingkaridanmenentang. Secaraistilahkafiradalahtidakberiman kepada Allah swt dan para Rasul-Nya, baikdisertaipendustaanatautidak, ataukarenaberpalingdarimengikutiRasulullah sawkarenadengki (hasad) atausombong, ataukarenamengikutihawanafsu yang memalingkanpemiliknyadarimengikutirisalah.[6]
Sebab-sebab orang kafir, antaralain :
a.       Mereka yang membenarkanajaranmusyrik
b.      Mereka yang menjatuhkan agama Islam
c.       Mereka yang melakukansihirdengansegalabentuknya, dansebagainya.
Zalimmenurutbahasa Arab artinyagelap. Sedangkanmenurutistilahzalimadalahtindakan yang melampauibatasdantidaksesuaidenganketentuan yang telah Allah swttetapkanataumenempatkansesuatutidakpadatempatnya. Baikitumengurangiataupunmenambahi yang berkaitandenganwaktu, tempat, ataupunsifat, sertahubungan antar manusiadengan Allah swt, hubunganmanusiadengansesamamanusiadanhubunganmanusiadenganalam. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin.
Sebab-sebab orang melakukankezaliman, antaralain :
a.       Irimelihatkeberhasilan orang lain
b.      Tidakbisamengendalikanhawanafsu
c.       Memaksakankehendaksendiri





















Simpulan

Dalam firman Allah swt Q. S. Al-A’raf ayat 199 menjelaskan bahwa setiap manusia harus saling memaafkan satu sama lain, berbuat baik terhadap sesame manusia maupun makhluk Allah swt yang lainnya, dan juga harus menghindari orang-orang yang bodoh, karena mereka hanya akan menyusahkan kita.
Kebodohan, kemiskinan, dan terbelakang merupakan hal-hal yang setan senangi. Mereka selalu berusaha  menghasut manusia agar bermalas-malasan dan berdiam diri, menghasut agar manusia tidak mau berusaha, dan masih banyak lagi hasutan setan kepada manusia. Kebodohan merupakan akar tadi segala kesesatan. Bodoh berawal dari malas untuk belajar, yang mengakibatkan manusia miskin dan terbelakang. Selain itu melalui kebodohan manusia akan melakukan hal-hal seperti perbuatan syirik, kafir dan zalim.













DAFTAR PUSTAKA


Budihardja. Kemiskinan dalam Perspektif Al-Qur’an. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner. Vol.6,
No. 2: (279-308).
Dimyati, Ghufron. “Berpaling dari Orang Bodoh”. 06 September 2018. Ghufron
dimyati.blogspot.com
Hamka. 2000. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hasiah. Syirik dalam Perspektif Islam. Jurnal Yurisprudentia. Vol.1: (83-102).
Tanpa Nama. Makna Kafir dalam Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab. (1-17).




[1]ghufron-dimyati.blogspot.com/(diakses pada 06 September 2018 pukul 15:00).
[2] Budihardja,“KemiskinanDalamPerspektif Al-Qur'an”, JurnalKajian Islam Interdisipliner, 6: 2, (Juli-Desember 2007)hal. 284.
[3]Hamka, Tafsir Al Azhar,(Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000) hlm. 222.
[4]Ibid., hlm. 223.
[5] Hasiah, “Syirik dalam Perspektif Islam”, Jurnal Yurisprudentia, 3: 1, (Padang, Juni 2017) hal. 85.
[6]“Makna Kafir dalam Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab, (Surakarta), hlm. 5.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TT E D3 Kekuatan Ilmu Pengetahuan

TT E B2 Karakteristik Orang Berilmu

TT E C2 Belajar Ilmu Kealaman Umum